jump to navigation

Me’nyruput’ Western Education untuk anak-anak December 28, 2009

Posted by Tri AB in Uncategorized.
trackback

Bateman, 17 Desember 2009

Alhamdulillah, anak-anak, Afkar Naufal dan Affan Fahreza, telah selesai menjalani masa sekolah singkat selama 2 bulan terakhir di Bateman Primary School. Mereka otomatis naik ke kelas berikutnya, Afkar ke Year 6 dan Affan ke Year 1.

Positifnya, bagi ortu seperti saya, menjelang kenaikan kelas, tidak ada perasaan khawatir mengenai nilai, peringkat di kelas ataupun naik kelas. Semua student otomatis akan naik kelas! Sangat membanggakan juga bahwa anak-anak juga sudah mulai pick-up the language! Mereka sudah mulai sedikit-sedikit bisa berbahasa Inggris, dari tadinya nol besar! Disamping itu, masa dua bulan belajar dan bersosialiasi telah mencukupi bagi mereka untuk settled down dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Bagus kan! Jika anak-anak merasa senang dan betah di sini, mamanya pasti ikutan kerasan, dan papanya bisa lebih konsentrasi belajar!

Bagi anak-anak, sekolah menjadi aktifitas yang menyenangkan karena beban belajar tidak menggunung, suasana belajar sangat fun dan santai, teman-teman baru telah di dapat, dan guru-guru sangat perhatian serta apresiatif. Dan yang lebih penting lagi adalah tidak adanya ujian-ujian!  Inilah yang membuat belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan dan rileks. Selain itu, ada mata pelajaran-mata pelajaran yang baru dikenal anak-anak di sini, yaitu Dance, Arts, Music dan LOTE (Language Other Than English). Dan ternyata semuanya memberikan pengalaman yang menyenangkan. Afkar dan Affan menjadi lebih bisa mengekspresikan diri serta lebih percaya diri secara nalar dan fisik!

Negatifnya, untuk sementara tidak ada! Tapi, sudah terbayang 3-4 tahun lagi setelah pulang di Jakarta, wah…pasti akan menjadi masalah besar! Dengan beban pelajaran tidak sampai 60% dari beban studi sekolah di Indo, anak-anak pasti akan mengalami kesulitan dalam mengejar kekurangannya. Ditambah dengan sistem pendidikan yang lebih mengutamakan isi buku pelajaran alias banyak hafalan dan ujian-ujian, pastilah anak-anak akan bertambah stress! Jika situasinya seperti itu, ortunya pasti lebih nervous lagi!

Tapi biarlah, toh problem itu akan datang 3-4 tahun lagi! Untuk sekarang ke depan ini biar anak-anak menikmati kesenangan bersekolah! Sesuatu yang sangat-sangat-sangat sulit di dapatkan di Indonesia!

 

Pengamatan Sekilas

Dari semula sebelum berangkat ke Perth, saya sudah mendengar sana-sini betapa berbedanya sistem pendidikan Indonesia dan Australia. Dan sekarang setelah melihat anak-anak mengalami sendiri masa 2 bulan bersekolah, perbedaan itu sangat terasa.

Yang saya amati dari masa sekolah anak-anak 2 bulan ini adalah:

  1. Ortu di tuntut aktif dalam menjalankan pendidikan bersama sekolah. Misalnya, untuk anak saya Affan, jadwal Pre-primary dibuat supaya ortu berpartisipasi dan berinteraksi dalam proses pendidikan, bahkan di dalam sekolah. Jadi, meskipun student Pre-primary masuk jam 9 am, ortu disarankan untuk datang bersama anaknya jam 8.30, untuk kemudian menemani anak-anaknya selama 30 menit dengan aktifitas belajar seperti membacakan buku atau ikut bermain puzzle. Demikian pula dengan Afkar yang duduk di Year 5. Setiap hari ortu harus menandatangani buku komunikasi dan pada hari Jumat disarankan untuk menghadiri acara assembly (pementasan).
  2. Setiap anak diberikan perhatian dan penghargaan berdasarkan bakat dan prestasinya, meskipun prestasi itu tidak berarti apa-apa bagi student lain ataupun bagi sekolah. Sebagai contoh, dalam dua bulan masa sekolah saja, Afkar telah diberikan sertifikat penghargaan dua kali, yaitu atas semangatnya dalam belajar di lingkungan baru dan dalam mengikuti pelajaran edu-dance.
  3. Jumlah mata pelajaran tidak banyak, tapi holistik (mencakup semua aspek perkembangan manusia). Contohnya, di Year 5 Afkar hanya belajar Math, Science, Music, Art, English( Spelling, Reading dan Writing), Phyical Education (PE) dan LOTE (Language Other Than English).
  4. Tugas-tugas dan homework tidak membebani anak. Selama dua bulan ini, jumlah PR yang diberikan untuk Afkar dapat dihitung dengan jari. Itupun dengan masa pengerjaan yang cukup lama untuk ukuran student Indo. Berlainan dengan tugas-tugas dan PR di sekolah Indonesia yang selalu menggunung dengan waktu pengerjaan super singkat tidak masuk akal.
  5. Suasana belajar di kelas yang menyenangkan dan rileks. Saya amati sendiri, di ruangan kelas, guru tidaklah duduk mematung di meja depan, dan murid-murid sering duduk dengan setting berkelompok. Tidak sama dengan suasana di ruang kelas sekolah di Indo dimana semua murid duduk menghadap ke depan. Bahkan, sangat sering saya lihat Year 5 dan 6 di gabung untuk mata pelajaran tertentu.
  6. Pengajaran tidak terpaku pada buku pegangan. Untuk pelajaran Reading misalnya, student selalu dibawa ke library untuk meminjam dan membaca buku apa saja yang mereka sukai.
  7. Tidak ada ujian-ujian harian, catur wulan atau bahkan untuk kenaikan kelas saja juga tidak ada final exam. Berlainan dengan sekolah di Indo, dimana anak-anak selalu dihadapkan dengan uji blok, testing mingguan, testing bulanan, ujian tengah semester, ujian akhir dll dll dll.
  8. Bahan pengajaran, misalnya Math, secara konseptual kira-kira sama dengan sekolah di Indonesia tetapi dari segi persoalan yang dicakup dan cara mengajarkannya sangat berbeda. Misalnya, untuk aritmetika dasar yang di sini dinamakan Number Sense, terlihat bahwa yang penting anak-anak memahami bilangan, hubungan antar bilangan, representasi bilangan, dan operasi-operasi bilangan. Bukan pada berapa dan serumit apa soal-soal yang berhasil dikerjakan. Jadi, soal-soal yang berikan untuk masing-masing konsep adalah soal-soal yang sederhana, bilangannya kecil-kecil dan bersifat terapan. Jika ada bilangan besar pasti berupa bilangan berpola yang sebelumnya sudah didahului dengan bilangan serupa tapi kecil. Misalnya, 60:9, 6000:90, 60000:900 dst dst. Pastilah anak Indonesia akan bilang, ‘mah…matematika di sini gampang!’. Ini berbeda dengan betapa beratnya bahan pelajaran matematika di sekolah Indonesia, dan seringkali soal-soal yang diberikan sangat rumit, dengan melibatkan bilangan yang kelewat besar dan tujuan soalnya juga tidak jelas. Kayak-kayak cuman drill doang!
  9. Selain intelektual anak yang ditumbuhkan, fisik dalam arti kebugaran dan ekspresi benar-benar dikembangkan pula. Dan tentu saja, kreatifitas dan imajinasi anak terus di rangsang. Pelajaran seperti dance dan sport menjadi menu mingguan, dan selalu di pentaskan di akhir minggu. Hasilnya, Afkar dan Affan dalam dua bulan ini terlihat lebih bisa mengekspresikan dirinya secara fisik, alias tidak malu-malu di hadapan orang lain dan percaya diri. Pelajaran Music dan Art juga benar-benar terasa berguna, anak menjadi senang berimajinasi, berekspresi dan bernyanyi.
  10. Kemampuan mengorganisasi diri juga di latih terus-menerus. Misalnya, sekolah mewajibkan semua student untuk membawa alat tulis-menulis dan perlengkapan sekolah yang komplit dan sama untuk semua anak. Semua pensil dan pulpen harus ditaruh di dalam pencil case, buku-buku pinjaman library harus dimasukkan tas khusus, semua anak harus membawa lunch-box, setiap anak mempunyai tempat penyimpanan disekolah dsb dsb. Meskipun kelihatannya hal sepele, tetapi terlihat bahwa anak diajari untuk mengorganisasikan dan membuat dirinya teratur serta rapi. Hehehe…saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana situasi kelas di SD Raudhah, tempat anak saya bersekolah terakhir, wah…yang namanya pensil, penghapus dan buku-buku berserakan kemana-mana. Dan karena tidak semua murid membawa perlengkapan sekolah yang sama, ada yang pinjem ini, pinjem itu…jalan-jalan dikelas dan akhirnya hilang…
  11. Kemampuan bersosialiasi anak terus-menerus dikembangkan. Sebagai contoh, setiap istirahat lunch, semua student harus berkumpul di hall, menurut kelasnya masing-masing dan duduk dengan rapi untuk kemudian makan bersama. Selain itu, seringkali ada kunjungan-kunjungan dan ekskursi keluar sekolah, misalnya untuk first aid (P3K). Bahkan, murid-murid sendiri diajarkan membuat acara charity, dengan menjual kue-kue disekolah misalnya. Juga, di sekolah anak-anak dilatih berdisiplin dalam menghargai hak temannya. Misalnya, untuk ke toilet harus antri, untuk membeli makanan di kantin harus antri untuk masuk keruangan assembly harus antri dsb dsb.

 

Refleksi Singkat

Meskipun Bateman Primary School adalah sekolah dasar negeri, tetapi dari segi kualitas pendidikan dan fasilitas pengajaran tidaklah berbeda jauh dengan public school lainnya di Western Australia. Baik pemerintah maupun badan swasta menerbitkan School League Table secara berkala bagi masyarakat untuk melihat perbandingan sekolah-sekolah negeri. Sebagai contoh website  http://www.thisreview.com.au/Item/Education/Public-Primary-Schools/Western-Australia/List.

Sangat mengherankan bahwa dengan bobot bahan pengajaran yang saya kira sekitar 50-70% dari tingkat kesulitan sekolah di Indonesia, Australia masih termasuk berada di jajaran depan dalam pendidikan diantara negara-negara maju. Belajarnya santai…eeeee…hasilnya koq masih bagus-bagus juga…! Piye tho..?

Terbukti dari laporan ranking TIMSS (Trends in Mathematics and Science Study) tahun 2007, atau laporan rangking PISA (Programme for International Student Assessment) tiga tahun berturut-turut.

 

Atau, indikasi-indikasi lain seperti nama-nama artis terkenal, ilmuwan, olahragawan dari Australia yang sudah mendunia dan terus-menerus eksis, seperti Nicole Kidman, Russell Crowe, Elizabeth Blackburn, Barry Marshall, Ian Thorpe, Leyton Hewitt dsb dsb. Saya yakin ini merupakan buah dari sistem pendidikan yang benar dan tepat.

Terlihat sekali bahwa anak-anak Australia sangat asertif (percaya diri dan meyakinkan) serta kreatif, dibandingkan dengan tipikal anak-anak Indonesia yang cenderung konservatif (tidak mau megambil resiko dan menyesuaikan dengan pendapat umum) dan reserved (pendiam, pemalu dan menjaga diri). Ini pastilah juga hasil dari sistem pendidikan yang mereka tempuh!

Saya lihat ada beberapa hal yang membedakan sistem pendidikan Indonesia dan Australia (baca: western), diantaranya approach dalam cara mengajar, konsep bahan pengajaran dan apresiasi terhadap peserta didik.  Dalam hal ‘pendekatan cara mengajar’, Student-as-Object vs Student-as-Subject. Dalam hal ‘konsep bahan ajar’, Lower order (hafalan) vs higher order thinking (penerapan dan analisa). Dalam hal ‘apresiasi peserta didik’, Keseragaman (Conformity) vs Keaslian (Originality).

Untuk mudahnya, perbedaan beserta simptomnya itu saya rangkum dalam tabel di bawah ini:

Perbedaan

Gejala (simptom) yang teramati
Indonesia

Australia

Student-as-Object vs Student-as-Subject
  • guru adalah otoritas dikelas yang tidak boleh dipertanyakan atau di challenge kemampuannya oleh murid
  • kebanyakan pertanyaan yang diajukan guru di kelas bersifat retorikal
  • murid-murid merasa bosan bahkan tertidur didalam kelas
  • tugas-tugas lebih banyak tertulis dalam bentuk latihan soal (drill)
  • banyak tugas berupa oral presentation yang mengharuskan murid berekspresi secara logika, bahasa dan fisik yang bisa berbeda dari pendapat guru
  • banyak tugas berupa written report yang memerlukan riset kecil yang tidak tergantung pada pendapat guru
  • suasana kelas hidup dan rileks
  • murid-murid duduk dalam kelompok dan bekerja secara kelompok
Lower order (hafalan) vs higher order thinking (penerapan dan analisa)
  • terpaku pada bahan belajar dari buku pegangan dan ujian-ujian
  • karena deadline ujian dan testing sering mepet, murid terpaksa menghafal bahan-bahan itu supaya lulus ujian, dan guru tergesa-gesa menyampaikan lembar demi lembar bahan dari buku pegangan dengan sambil lalu supaya bisa memenuhi deadline
  • tumbuhnya bimbingan-bimbingan belajar, yang bukan hanya menawarkan cara cepat belajar, bahkan bisa mengerjakan PR anak-anak
  • murid dinilai dan di rangking berdasarkan pencapaian berdasarkan angka-angka hasil ujian dan testing
  •  kecepatan (pace) belajar yang santai dan tidak stress (tense)
  • cara belajar berkelompok merangsang anak untuk mengerti lebih mendalam karena harus mengungkapkannya di hadapan kelompoknya
  • tugas-tugas berupa written report merangsang anak untuk mencapai pengertian terhadap bahan lebih luas dan mendalam
  • tugas-tugas berupa presentasi di kelas merangsang anak untuk mengerti lebih mendalam
Keseragaman (Conformity) vs Keaslian (Originality)
  • banyak peraturan-peraturan disiplin seperti: ‘sepatu harus hitam dengan kaus kasi putih’, ‘baju harus dimasukkan rapi’ dsb dsb.
  • prestasi murid diukur dari angka-angka hasil ujian saja
  • hukuman bagi murid yang berbuat salah, baik secara akademis maupun tingkah-laku
  • jenis pekerjaan sepeti dokter, insinyur dan pengacara sangat di senangi, sedangkan artis, seniman dan olahragawan sering di anggap remeh
  •  kesalahan dipandang positif, karena merupakan langkah pertama untuk pemahaman
  • assessment tools beragam untuk mengukur kemampuan masing-masing murid
  • karya dan pendapat orisinil sangat dihargai, plagiarism dikenakan hukuman keras
  • keikutsertaan murid dalam kegiatan ekskul, charity dan voluntary sangat didorong dan dihargai

 

Begitulah, senikmat satu ‘sruputan’ kopi nasgithel (kopi manis mantap), demikan pula anak-anak, Afkar dan Affan, telah mencicipi pendidikan yang menyenangkan, dan membuat mereka lebih percaya diri serta bisa berekpresi secara logika, estetika dan fisik! Pastilah masa libur Summer yang panjang ini bukan liburan yang ditunggu-tunggu, tapi sekolah-lah yang terbayang-bayang! Moga-moga dengan mengikuti pendidikan di Australia 3-4 tahun ini, mereka bisa mengikuti jejak nama-nama besar di atas, sesuai dengan bakat dan pilihan hidupnya!

Dan untuk ortu sendiri, selain senang bisa berharap banyak dari perkembangan mereka, ada hal-hal yang perlu diantisipasi juga. Misalnya, selain kemampuan intelektual, seni dan fisik yang berkembang, mereka pasti juga menyerap nilai-nilai yang bisa menentukan pilihan hidup, harapan-harapan dan kepuasan yang ingin diraih dalam hidup ini. Bisa jadi, pilihan-pilihan dan harapan-harapan itu tidak kompatibel dengan situasi umum di Indonesia nantinya! Must be anticipated from now!

***NB: “nyruput” dalam bahasa Jawa berarti menikmati minuman panas, misalnya kopi atau teh, dengan cara di minum sedikit-sedikit, sambil mengeluarkan suara “srtpttt…”, sehingga terasa sangat nikmat dan menimbukan perasaan ingin menikmati lebih lama lagi.

Comments»

1. Arly - February 6, 2010

Luar biasa post-nya Pak! memang di sekolah negeri di Indonesia kurikulumnya masih mengandalkan IQ ketimbang EQ.., menurut saya hal ini berakibat pada kurangnya kepercayaan diri seorang murid yang akhirnya menghambat intelektual itu sendiri yang padahal harusnya bisa diekspresikan dengan tepat.

Kesempatan ini sungguh amat disyukuri ya Pak, semoga anak-anak Bapak bisa bertumbuh menjadi orang yang sangat berguna nantinya. =)

Sukses utk Bapak dan sekeluarga! :)

Tri AB - February 8, 2010

Terimakasih Mas Arly, dan salam kenal. Pastilah banyak yang mendambakan cara dan suasana bersekolah di negara-negara maju, dan moga-moga para pembuat kebijakan di atas mempunyai good will dan rencana yang tegas untuk memperbaiki pendidikan di negara kita tercinta. Alangkah baiknya jika para ortu yang perduli bisa sharing dan menjadi kekuatan komunitas untuk perbaikan pendidikan kita. Mungkin ada baiknya jika kita pikirkan bersama-sama komunitas ini dan cara penggalangannya. Saya yakin, ini menjadi kebutuhan dan keinginan kita semua. Jika Mas Arly dan teman-teman tertarik untuk bersama-sama meng-inisiasi, saya siap bergandengan tangan juga.

Cheers…

Arly - February 8, 2010

Iya Pak, jika memang ada kesempatan untuk meng-inisiasi akan lebih baik Pak, saya sangat mendukung.

Yang saya lihat sekarang, suasana bersekolah di negara-negara maju sudah di implementasikan oleh International Schools di Indonesia, sehingga timbul persaingan antara kurikulum sekolah negeri dan swasta. Tapi semoga ini bisa jadi dampak positif untuk pendidikan negeri kita jadi lebih maju ya Pak.

Btw, saya Arly, murid Bapak di Binus International jurusan Comp. Science, apa kabar Pak Tri? :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.