Studi S3, Fishing dan Driving, lebih asyik mana? March 20, 2011
Posted by Tri AB in Uncategorized.trackback
Sudah lama rasanya saya tidak mengupdate blog ini. Wow, it’s almost 1 year since I posted my last thought. Biasa…namanya juga student, kadang-kadang terlalu suntuk (alias asyiiik dengan studi).
Just for a short reflection, ketika bertemu my PhD Supervisor 1.5 years ago, ia bilang bahwa studi S3 itu bisa diibaratkan dengan fishing (memancing). Tahap pertama dimulai dengan menentukan lokasi fishing, dan jelas bahwa saat itu kita belum yakin dimana letaknya dan akan memperoleh ikan macam apa. Setelah mendapatkan lokasi yang kira-kira pas, mulailah kita tebar pancing. Kalau langsung dapat ikan besar dan bagus, bolehlah kita pulang dan lansgung kita masak, dan sajikan untuk our dinner…emmmm…slurp..slurp. Ini persis dengan proses studi S3 yang lancar: dapat topik, penelitian, dapat hasil, dan writing, lulus!
Tapi sangat sering terjadi bahwa karena kita cuma mengandalkan coba-coba, tempat pemancingan yang kita pilih tidak memberikan ikan sama sekali, atau ikannya kecil-kecil. Terpaksalah kita harus pindah lokasi, dan ini bisa berulang beberpa kali kalau kita tidak cukup beruntung. Hahaha…persis sama dengan student S3 yang karena kurang pengalaman riset, tidak tahu persis bagaimana memulai fishing, sehingga gagal mendapatkan lokasi yang ikannya banyak dan gemuk-gemuk. Nasiblah…terpaksa ganti-ganti judul penelitian sampai perpanjang studi segala. But, it’s normal…namanya juag research alias re-search, mencari berulang-ulang, kadang dapat kadang nggak. And that’s the nature of studi S3, self studi, self research, self exploration!
Yang saya alami tepat seperti yang analagi fishing tersebut. Berbekal S2 by course, dan ketrampilan serta insight riset nan minimalis, waktu memulai S3 bekal saya cuman ketrampilan meraba-raba (ssstt…bukan uh..oh). Meraba-raba topik riset dan bidang apa yang kira-kira bisa memberikan hasil riset yang bisa dianggap signifikan dan contributing unuk level S3? So, I didn’t know exactly where to go and how to start the fishing!
Saya jalan saja dengan topik yang sembarang saya pilih, bukan karena suka dan engaged dengan topik tersebut, tapi semata-mata supaya mendapat calon supervisor saja! Heheheh…udahlah, pokoknya yang penting berani memulai aza. Dan dengan topik tersebut (Games Technology for Education) saya bisa beruntung mendapatkan calon supervisor. Tapi, setelah enroll di Univ dan memulai studi, saya cepat-cepat putuskan untuk ganti topik. I thought, even though it may give the fish, but I wouldn’t have any appetite with that fish! Dan kebetulan supervisor saya mempunyai research interest yang cukup lebar. Saya ajukanlah topik baru, mengenai Genetic Algorithm for Game Caching. It’s a new pond for fishing right? Tapi setelah mencari-cari hampir selama 6 bulan kemudian, ikannya tidak muncul juga, it might be the pond has no fish at all??? That question was lingering in my mind all the time, made me a bit depressed and lost an orientation! So, akhirnya saya putuskan ganti topik lagi. Kali ini mengenai Memetic Algorithm for Timetabling. Setelah berjalan 6 bulan, wow…I think this the right fishing spot! I feel like already caught a big big fish, and it’s a alot! Wow…emmm…I’m sure I made a quite impresive progress.
Pengibaratan riset S3 dengan fishing bagus juga, dari segi proses cukup tepat. Tapi, jika ingin menggambarkan dinamika resercher-nya, nampaknya mesti dilengkapi dengan analogi lain! Yang saya rasakan, setelah mendapatkan lokasi pemancingan yang pasti menghasilkan ikan, faktor penentu kita akan mendapat ikan atau tidak terletak pada diri di pemancingnya, apakah ia cukup sabar menuggu kailnya terkait ikan, atau cukup tahan mengahadapi hujan atau panas ketika menungguinya pancingnya? Well, nggak ada kan kita tinggal pancing dan berharap mendapatkan banyak ikan?
Dinamika pribadi student S3 (waktu, semangat dll) ketika on the way to their results mungkin dapat diibaratkan dengan driving. Karena sudah pasti tempat tujuannya, seberapa lama kita sampai ke tempat tersebut, benar-benar bergantung kepada kesediaan kita untuk mencurahkan waktu buat driving, dan ketahanan kita dalam perjalanan tersebut. Well, it sounds like accurately illustrating the research progress when everything looks allright. Jadi, untuk tahap sekarang ini, I feel like being a driver, harus benar-benar memusatkan waktu untuk menyopir ke tempat tujuan dan bertahan untuk tidak sering berhenti. If I do this consistently, I will see the destination very very soon.
Saya berharap semoga teman-teman dan pembaca blog ini yang sedang menempuh studi S3, tidak mengalami hal seperti saya. It’s painful and depressing. And I’ll always raise my hand and ask “Oh Lord, give me a determination, guidance and blessing in my enterprise…amiiin…”
thanks for your sharing, sir.
jadi makin ngerti susahnya studi s3