jump to navigation

Booking Tiket Garuda dari Jakarta October 21, 2009

Posted by Tri AB in Departure, Uncategorized.
add a comment

Sejak dulu, Garuda Indonesia (GA) ‘notoriously’ terkenal dengan sistem bookingan yang tidak rapi dan tidak akurat. Desas-desus sih bilang bahwa ‘…untuk memudahkan si X, si Y mendapatkan alokasi flight gratis…’, ‘…untuk memastikan pejabat pemerintah mendapatkan alokasi seat…’, dsb, dsb. Yang paling sering terlihat sih, dibilang penuh, padahal sewaktu on board..eh…lah, koq kosong begini…asik2, bisa tidur selonjor kaki…hehehe.

Bagi teman-teman Dikti yang akan berangkat untuk pertama kali, urusan tiket flight tidak menjadi masalah, tinggal angkat telpon atau email ke agen tiket yang telah ditunjuk Dikti. Tetapi, bagi mereka yang mau berangkat bersama keluarga atau bolak-balik JKT-PRTH dengan tiket yang di arrange sendiri, urusan booking tiket bisa sedikit pelik! Intinya kan, gimana bisa dapat tiket murah tapi flight yang bagus…hehehe.

Beberapa maskapai melayani rute JKT-PRTH, semisal GA, MAS, JetStar, dan SQ. Tapi pasti semua sudah tahu bahwa GA lah yang bisa memberikan dua hal sekaligus: harga murah + flight bagus. Sebenarnya mengenai masalah harga, JetStar bisa di adu dengan GA. MAS bisa juga bersaing dengan GA asalkan mendapat tiket promosi. Kalau SQ, sudah pasti di atas ketiganya. Tapi, kalau diantara ke empat maskapai tersebut, kita sama-sama mendapatkan tiket promosi, sudah hampir pasti GA nomor satu termurah! Ditambah dengan service dan kualitas penerbangan, GA semestinya menjadi pilihan pertama untuk terbang ke PRTH. Cobalah kita bandingkan dari segi seat layout saja, kalau kita naik JetStar, kita merasa kayak menjadi sate udang! Super sempit sekali! Terus terang, I felt so stressful in the JetStar flight! GA juga menyediakan entertainment unit untuk setiap penumpang, berupa monitor 8 inchi didepan setiap kursi penumpang. Kita bisa lihat film, main game, denger musik, dsb dsb. Mana ada yang kayak begituan di JetStar! Apalagi kalau melihat kualitas service, wow…GA jauh jauh lebih superior. Penerbangan pagi GA dari JKT-PRTH ditemani dengan breakfast yang cukup lezat dan mengenyangkan. Lumayan lah, supaya nggak masuk angin. Lunch juga disediakan pada waktunya. Di JetStar….kita mesti bayar lagi! Pokoknya, nice, friendly, full service, bersih, lapang, …dan masih bisa baca KOMPAS! hehehe…

So, waktu acara menjemput keluarga awal bulan ini, saya sudah memutuskan untuk pakai GA dari awal. The problem? How to get cheap ticket? Semua pasti sudah tahu kalau ticketing GA bisa di akses dari tiga channel, yaitu By Phone, datang ke Kantor GA atau lewat agen tiket GA (biasanya tour and travel company). Mungkin ada yang berpikir, booking melalui telpon akan lebih murah. No..no, it’s not always the case! Lagipula, booking tiket flight GA internasional akhirnya akan berujung dengan datang  ke kantor untuk bayar!

Ada satu secret yang orang biasanya salah asumsi, yaitu since booking by phone incurred no additional cost for middle-man, mestinya lebih murah. Ternyata, tidak juga! Memang benar bahwa by phone booking tidak perlu melalui perantara, tetapi ternyata CSO (Customer Service Officer) yang kita kontak biasanya menawarkan harga normal! Apalagi kalau bookingnya dekat-dekat dengan keberangkatan. Nah, dalam situasi seperti ini, tidak ada salahnya jika kita juga coba mengontak agen tiket. Siapa tahu, tiket promosi yang mereka pegang belum ada yang ambil!

Jadi, supaya mendapatkan tiket flight yang murah di GA, pastikam untuk mendapatkan tiket promosi. Sebagai contoh, karena family members saya ada 5 orang, 2 adult and 3 childred, maka mau nggak mau mesti booking 5 tiket. Waktu itu, karena saya hanya mengandalkan duit beasiswa Dikti, saya baru berani booking tiket 2 hari sebelum keberangkatan. Sewaktu telpon ke GA Call Center, saya mendapatkan harga: 288  USD untuk adult dan 282 USD untuk children. Saya pikir harga segitu sudah murah, dan sudah hampir saya bayar. Tapi, iseng-iseng saya hubungi agen tiket, dan wow…surprisingly, I got cheaper offer! 218 USD untuk adult dan 188 USD untuk children. Jadi, berlima cuman bayar 10 juta! Untuk student Dikti, ini harga yang sangat-sangat menarik dong…! Selain itu, kalau booking per telpon ke GA Call Center, kita juga mesti kasih alasan kenapa koq ambil one way saja. Terus, juga diminta bukti study sewaktu akan bayar ke kantor GA. Wah…orang mau bayar kasih duit koq dipersulit!

Kesimpulannya adalah pastikan mendapat tiket promo, dan booking lewat agen kadang-kadang malah lebih baik daripada ke Call Center GA!

Perkiraan keperluan dana cadangan October 11, 2009

Posted by Tri AB in Departure.
add a comment

Dengan model jadwal pencarian dana beasiswa Dikti per semester, yaitu Februari dan Agustus, ditambah dengan faktor delay karena mengikuti jadwal APBN plus faktor bikrokrasi, maka penyediaan dana cadangan menjadi wajib hukumnya. Kecuali kalau kita mau mengambil resiko untuk terlunta-lunta di negeri orang!

Pasti semua sudah mahfum, bahwa dana beasiswa Dikti dianggarkan melalui APBN, dan APBN mempunyai jadwal pencairan tertentu. Sebenarnya secara definitif setiap bulan Februari dan Agustus, dana anggaran APBN bisa dicairkan. Tetapi, kenyataannya karena mesin birokrasi yang mengelola dana beasiswa ini cukup panjang, mulai dari Depkeu, Dikti, Kopertis dan Universitas, maka delay pasti terjadi! Kelambatan pembayarannya bisa 2 sampai 3 bulan.

Bisa saja kita meminta dana talangan dari perguruan tinggi asal, tetapi banyak PT yang tidak mampu memberikan dana ini. Di sisi lain, kita telah mempunyai schedule definitif untuk memulai studi. Terutama teman-teman yang masih diwajibkan mengambil course prasyarat, jadwal perkuliahan tidak mungkin ditunda-tunda.  Juga, jeda waktu antar jadwal pembayaran beasiswa bisa berlangsung 2-3 bulan. So, nampaknya dana cadangan pribadi sangat-sangat dianjurkan untuk disiapkan.

Pertanyaannya adalah kira-kira berapa besar RP yang mesti kita anggarkan dari kocek pribadi? Dalam hal ini, saya kesampingkan faktor tuition fee, mengingat jumlahnya yang sangat besar dan sebenarnya telah teratasi dengan Surat Garansi Beasiswa Dikti. Dan juga, faktor jumlah anggota keluarga yang bergabung akan menjadi penentu. Untuk mudahnya saya ambil contoh my own case, dengan 5 family members, dan kita ambil periode 3 bulan sebagai basis waktu. Asumsi lain adalah kita punya mobil untuk membawa keluarga.

Komponen yang kita hitung adalah sebagai berikut:

  • House rent = 270 pw atau 1120 pm dikalikan 3 = 3360
  • Transport  = bensin 10 lt pw atau 20 pw atau 80 pm dikalikan 3 = 240
  • Food = 200 pw atau 800 pm dikali 3 = 2400
  • Talangan OSHC family rate = 730 per year
  • Tagihan listrik, telp, internet = 60 + 40 + 40 = 140 pm dikalikan 3 = 420
  • Entertainment = 50 pm dikalikan 3 = 150

Total sekitar 7300 AUD atau dengan kurs 8600 menjadi sekitar RP 62.780.000. Jadi, range aman sekitar 70-80 juta rupiah mesti kita siapkan sebagai dana cadangan, in case pencairan dana Dikti terlambat 3 bulan (sudah pasti!).

Documents to carry: The Good, The Bad and The Ugly October 11, 2009

Posted by Tri AB in Departure.
add a comment

Writings mean something! Meskipun kadang-kadang apa yang dituliskan tidak sama dengan apa yang dimaksud alias formalitas, banyak dokumen yang bisa membantu memudahkan hidup kita di Perth. Sebaliknya ada dokumen-dokumen yang disarankan di bawa padahal tidak ada gunanya. So, let’s be picky in carrying documents, soalnya ngeri juga kalau bawa dokumen penting jika akhirnya bisa hilang!

First thing first, karena kita adalah mahasiswa atas beasiswa Dikti, maka dokumen yang pertama wajib dibawa adalah Surat Garansi Beasiswa. Bagi yang mengurus surat ini di awal-awal, didalamnya hanya ada pernyataan scholarship component “at cost”, tetapi jika mendapatkan surat tersebut agak belakangan, maka di dalamnya dinyatakan besaran biaya setiap komponen. Surat in bisa diminta di bagian keuangan Dikti dengan Bu Istri Hidayati.

Dikti Scholarship Guarantee letter

Saya merasakan dua manfaat surat ini yang sangat-sangat membantu, yaitu untuk melancarkan application for admission dan mendapatkan housing. Setelah kita kirim aplikasi ke universitas idaman dan disetujui, kita akan dikirim Letter of Offer atau Acceptance Letter. Di dalam surat ini biasanya dicantumkan besarnya tuition fee dan health insurance per tahun, dan deadline pembayarannya. Tanpa di bayar, tidak mungkin COE (Confirmation of Enrollment) akan di terbitkan oleh universitas tersebut. Dan tanpa COE, tidak mungkin kita mengurus visa student! Nah, disinilah peran penting Letter of Scholarship Guarantee berjalan. Kita tinggal mengirimkan surat ini ke universitas yang bersangkutan dan melihat isinya, pasti mereka mau menerbitkan COE.

Second thing second, setelah mendapatkan COE dan visa mestinya kita segera berangkat. Ada masalah baru yang jelas akan menghadang kita segera setelah tiba di negara tujuan. HOUSING! Kita pasti memerlukan tempat tinggal selama masa studi 3-4 tahun. Apalagi kalau kita akan membawa keluarga, housing jadi issue yang tidak mudah, soalnya anak istri akan bergabung. Kebetulan saya ambil studi dan tinggal di Perth, jadi saya ambil contoh housing di Perth. Di sini, untuk mendapatkan housing, entah berupa unit flat, apartemen, atau rumah, kita mesti berhubungan dengan property agent. Waktu kita submit aplikasi renting, mereka akan meminta bukti keuangan. Nah, disini peran surat terpenting kedua terlihat nyata, kecuali kalau kita memang mempunyai sumber finansial pribadi yang kuat atau berkelanjutan, bisa kita tunjukkan slip gaji misalnya. Whah…, nggak mungkin kan, status saya saja unpaid leave. Kita bisa meminta universitas tempat kita bekerja untuk menerbitkan surat dukungan finansial untuk keluarga, baik untuk formalitas ataupun sukur-sukur beneran. Surat ini terbukti sangat sakti waktu saya pakai untuk apply housing, tentu saja ditambah dengan Surat Garansi Beasiswa dari Dikti, …tidak sampai 2 jam setelah saya lodge aplikasinya, saya sudah mendapatkan approval notice! Property Agent mana yang tidak convinced melihat bukti support finansial kita yang meyakinkan. Sampai-sampai pada saat tanda tangan kontrak dan ketemu dengan agen ybs, dia bilang “ok, so you’re supported by your government and your family are sponsored b your company..blah..blah…blah…”

 

Oh ya, pada saat kita berangkat, tanpa menunjukkan bukti NPWP, kita akan terkena fiscal fee sebesar 2.5 juta. Ini menjadi dokumen ketiga yang terpenting yang mesti kita bawa.

Dokumen berikutnya adalah SIM (Surat Ijin Mengemudi). Dalam tulisan terdahulu, saya sudah membahas secara rinci mengenai keberlakukan SIM Indonesia di Perth. Intinya adalah, sebagai temporary resident, kita boleh menggunakan SIM kita untuk membawa kendaraaan di Perth dengan ketentuan telah mendapatkan terjemahan dari Konsulat Republik Indonesia di Perth. Ini menjadi dokumen keempat yang terpenting kita bawa.

Ada satu dokumen yang pada saat pembekalan Dikti sangat-sangat dianjurkan untuk di bawa yaitu Surat Ijin dari Setneg.

Ijin Setneg

Surat ini, ternyata tidak kita perlukan sama sekali! Paling tidak untuk saat ini. Kegunaannya lebih ke arah dokumen pendukung untuk pengurusan persamaan ijasah S3 selepas selesai studi nantinya.

Jadi, kesimpulannya adalah hanya ada 2 dokumen yang terbilang sangat-sangat memudahkan urusan kita di LN, yaitu Scholarship Guarantee Letter dan Dependent Financial Support Letter. Adapun NPWP dan SIM juga wajib dibawa, tetapi kalau tidak adapun urusan studi dan living overseas masih bisa berjalan. Sedangkan Surat Ijin Setneg tidak perlu dibawa, karena tidak diperlukan sekarang. Apalagi dokumen-dokumen lain semacam ijasah, KTP dll…lebih baik disimpan aman diIndonesia!

Mengurus Visa Dependent October 7, 2009

Posted by Tri AB in Departure.
add a comment

Bagi saya, kesempatan mendapatkan beasiswa untuk belajar ke luar negeri lebih saya pandang sebagai anugerah yang tak ternilai harganya untuk keluarga, terutama anak-anak, daripada nilai jenjang pendidikan yang nanti akan saya dapatkan. Apalagi, anak-anak saya sedang berada di masa usia emas pertumbuhan, yaitu umur 10, 5 dan 3 tahun. Saya yakin bahwa masa tinggal 3-4 tahun akan bisa melekat membentuk kapasitas mereka, terutama ketramplian berbahasa Inggris, penghargaan atas multikultur dan pengembangan wawasan yang luas. Disamping itu, istri juga akan mendapat kesempatan untuk bekerja dan berinteraksi dengan cara hidup di luar negeri. Apalagi, tidaklah mungkin bagi saya untuk berangkat studi sendirian meninggalkan mereka selama 3-4 tahun di Indonesia, karena anak-anak perlu pengawasan dan pendidikan kedua orang tuanya.

Makanya, dengan cara apapun saya ingin memberangkatkan mereka untuk bersama-sama mengalami hidup di negara asing. Will be a memorable experience! Hehehe..kenyataannya semua barang berharga, kecuali rumah, sudah saya jual untuk menambah modal keberangkatan keluarga. Itupun, masih akan menghadapi resiko keuangan, karena dengan living allowance beasiswa Dikti yang hanya 1500 AUD per bulan, mana cukup untuk hidup? Di tambah dengan kabar-kabar kalau pencairan dana bisa terlambat 2-3 bulan dari jadwal! Terus terang bekal yang saya kumpulkan tidak cukup untuk mengisi kekosongan 3 bulan tanpa ada dana beasiswa. So, the only hope is asking my wife and myself to work for preparing those 3 months, yaitu bulan-bulan January-Maret 2010 nantinya.

Karena saya punya 3 anak kecil dan 2 diantaranya dalam usia sekolah, saya harus mendapatkan acceptance letter untuk sekolah anak-anak. Jadi, mau tidak mau saya harus berangkat dulu! Ini juga menjadi masalah tersendiri, sebab berarti harus mengurus visa terpisah, atau dua kali mengurus visa. Biaya ekstra sekitar 4.8 juta otomatis harus saya siapkan untuk mengurus visa dependent nantinya. Padahal jika diurus bareng, hanya kena sekali biaya, yaitu 4.8 juta. So, untuk biaya visa saja sudah membengkak 2 kali lipat, tetapi saya tidak punya pilihan lain berhubung belum mendapatkan acceptance letter untuk sekolah anak-anak.

Sesampai di Perth dan setelah mendapatkan rumah tinggal seminggu berikutnya, saya langsung mendatangi Bateman Primary School, yang kebetulan terletak di seberang rumah. Proses aplikasinya sangat mudah dan cepat. Dalam tempo satu hari saya sudah mendapatkan acceptance letter. Surat tersebut segera saya kirim ke Indonesia beserta Form 919 yang telah terisi dan tertandatangani.

Selanjutnya, istri saya mesti melengkapi Form 157A dan diisi data istri beserta seluruh 3 anak saya. Syarat-syarat lainnya adalah passport, bukti medical checkup, pas foto, bukti keuangan sponsor, bukti OSHC family rate, rekening koran 3 bulan terakhir, surat referensi bank, akte kelahiran, kartu keluarga, ktp, COE dan Letter of Offer saya, visa dan passport saya, rapor anak dan lainnya. Semua dokumen tersebut dilodge ke kantor visa Australia sekitar tanggal 5 September 2009, dengan membayar sekitar 4.8 juta ditambah dengan biaya per anak 150 ribu, jadi total sekitar 5.3 juta. Seharusnya lama pengurusan visa adalah 15 hari kerja, tetapi karena terpotong cuti masal libur lebaran, tanggal 6 Oktober visa dependent baru diterbitkan.

Diantara semua dokumen persyaratan pengurusan visa dependent, yang cukup menjadi persoalan menurut saya adalah Acceptance Letter untuk sekolah anak dan Sertifikat Polis OSHC keluarga. Tapi sebenarnya sangat tergantung dari kepiawaian kita untuk mencari celah-celah peraturan. Sebagai contoh untuk mendapatkan acceptance letter sebenarnya secara resmi di fasilitasi oleh ETI (Dept of Education and Training) Western Australia. Tetapi, pasti akan memerlukan waktu yang cukup lama karena menyangkut birokrasi. Supaya acceptance letter cepat di dapat, sebaiknya langsung datang membawa dokumen persyaratan seperti passport dan visa student, fotocopy passport anak, fotocopy akte kelahiran dan raport, ke sekolah yang dituju. Tentu saja kita mesti punya alamat tinggal tetap dulu, dan paling baik jika kita memilih sekolah anak yang berada di daerah (suburb) kita tinggal. Perlu diketahui bahwa untuk pendaftaran sekolah anak, akan diutamakan anak-anak yang tinggal di suburb tempat primary school itu berada. Jika tinggal di suburb yang lain, masih bisa diterima asalkan ada seat yang tersedia. Jika tempat tinggal dan tempat sekolah berada di suburb yang sama, anak pasti diterima di sekolah tersebut, karena by law anak usia sekolah wajib bersekolah. Kemudian, mengenai OSHC, sebaiknya segera setelah kita enrol, kita tanyakan nomor polis OSHC kita, karena setelah itu, kita bisa urus sendiri semuanya baik melalui telpon ataupun secara online.

Bandara dan Customs Perth October 3, 2009

Posted by Tri AB in Departure.
add a comment

Bandara Perth sangatlah kecil jika dibandingkan dengan Soekarno Hatta International Airport! Dan saya lihat sejak tahun 2004 ketika saya pertama mengunjungi Perth, tidak ada perubahan apapun. Jadi, bagi yang sudah pernah datang ke Perth dalam waktu lima tahun ke belakanga, harusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Setelah pesawat mendarat, kita akan menghadapi immogration clearance dulu! Yang perlu kita persiapkan cukup passport, dan kadang-kadang kita di tanya mau ngapain dan tinggal di mana! Ya, kita jawab seadanya saja, yang jelas kita kan student, dan kalau belum tahu mau tinggal dimana, sebut saja alamat universitasnya. It’s ok koq, itu cuma untuk melihat identitas kita sebenarnya!

Setelah itu, itu kita ambil bagasi dari carousel berjalan. Tidak usah bingung! Semua petunjuk sangat jelas dan ya..ikuti saja orang-orang mau kemana…pasti mereka mau ambil bagasi! Setelah itu, kita di cegat oleh Customs atau bea cukai. Nah, pastikan bahwa form customs clearance yang tadi sudah di isi di pesawat di bawa di tangan beseta passport. Nanti akan kedengarang petugas berteriak-teriak “pastikan bawa form clearance!”. Kelihatan ada dua lajur antrian, yaitu red line dan green line. Bagi penumpang pesawat yang men-declare barang-barang bawaannya, harus melewati red line, sedangkan undeclared goods harus melalui green line. Jika kita berada di red line, petugas akan menyuruh kita membuka tas, harus diperlihatkan barang-barangh yang di declare tadi seperti apa!

Untuk undeclared goods, yaitu yang melalui green line, jika tidak kena random check, setelah menyerahlan form claarance kita bisa langsung lewat asal petugas telah memberi sinyal OK. Tetapi, kadang-kadang mereka akan melakukan random check, dan memaksa kita untuk membuka tas dan bawaan lainnya. Nah, kalau kita tidak mendeclare, dan ketahuan ada barang yang di larang, kita bisa kena denda! So, please be honest!

Setelah melewati Customs, ya sudah…..horeee….alhamdulillah…sudah sampe Perth! Bagi yang datang sekitar bulan Juli-September, kondisi cuaca masih dingin. Pakai baju tebal saja masih terasa kedinginan, apalagi kalau ala Jakarta, bisa-bisa ngigil! Jika tidak ada teman yang menjemput, taksi jga banyak tersedia dengan argo sekitar 35-60 dollar, tergantung jarak tempuhnya. Kalau membawa banyak bawaan, bisa memilih taksi yang berupa wagon.

Jadi, Perth is so small compared to Jakarta! Jangan khawatir tersesat di Perth!

Persiapan Keberangkatan ke Perth October 3, 2009

Posted by Tri AB in Departure.
add a comment

Meskipun saya akan berangkat sendirian dulu, tapi persiapan berangkat ke Perth cukup makan waktu juga. Ternyata banyak hal kecil-kecil yang mesti dipikirkan dengan teliti! Saya sudah merencanakan bahwa in the next 2 month after arrival, my family would’ve been  joining. Padahal saya punya 2 anak usia sekolah! Setelah sekitar 6-7  minggu ini berada di Perth, saya rasa apa yang saya persiapakan tidaklah meleset!

Jadi, ada beberapa kategori pertimbangan yang mesti kita pikirkan pada saat kita menyusun daftar bawaan.

  1. Apakah ada anak usia sekolah?
  2. Kemudahan hidup di Perth

Untuk memastikan bahwa anak mendapatkan acceptance letter dari sekolah publik atau private, kita mesti membawa:

  1. Fotokopi paspor mereka
  2. Riwayat kesehatan mereka
  3. Akte kelahiran
  4. Raport

Dokumen-dokumen tersebut sebaiknya kita sediakan terjemahbahasa Inggrisnya, dan sebaiknya terjemahan resmi tersumpah.

Untuk kemudahan hidup di Perth, just after we arrive, sebaiknya membawa:

  1. Colokan (power plug) model Indonesia (dua lubang bulat)
  2. Kabel ekstension power plug model indo
  3. Peralatan rumah (homeware), misalnya setrika atau alat masak seperti rice cooker
  4. Baju-baju dingin

Sebenarnya homeware bisa mudah kita dapat di supermarket semacam K-Mart atau Target, tetapi selain mahal juga wattage tinggi, artinya boros listrik. Jadi, tidak ada salahnya toh …untuk membawanya dari indo, selain lebih murah, irit listrik, juga di sana kita langsung on action masak atau seterika sendiri tanpa susah-susah mencarinya lagi! Juga, sebenarnya baju-baju dingin bisa kita beli di Perth, tapi ..emmm… mahal dan jelek…hehehehe. Made in Bandung jauh lebih bagus dan murah! Kalau nggak bawa baju dingin dan tiba di Perth sekitar September atau sebelumnya, pasti menyesal deh…dan kendinginan!

Oh ya, jangan lupa bagasi yang sudah kita siapkan ditimbang untuk memastikan berapa kira-kira beratnya, sehingga kita bisa siapkan excess bagagge fee-nya! Kita boleh membawa barang apa saja asal kita declare! Urusan nanti mau di loloskan atau di sita oleh Australian Customs, itu kita lihat saja di lapangan. Yang paling penting adalah di declare! karena kalau sampau customs menemukan barang bawaan yang dilarang, kita bisa kena denda yang lumayan mahal, bisa sampai 600 dollar! Pada saat terbang nanti, pramugari akan mengedarkan form Australian Customs yang mesti kita isi sejujur-jujurnya!

Naik Garuda Ke Perth October 3, 2009

Posted by Tri AB in Departure.
add a comment

Bagi teman-teman yang akan ke Perth, whah…sudah pasti naik Garuda yah! Dan pasti pernah mengontak Pak Jozze Jursza dari Anugerah Wisata…hehehehe.

OK sih…, flying with Garuda was nice experience! Kebetulan saya mendapat penerbangan pukul 9 am, jadi sampai di Perth masih sore. Ada teman yang mendapat penerbangan malam, sampai di Perth pagi-pagi. Ya, sebaiknya sebelum konfirmasi tiket, tanyakan ke Pak Jozze deh, untuk tanggal yang sudah direncanakan ada penerbangan jam berapa saja. Soalnya, penting juga untuk bisa jaga kondisi badan! Kalau mendapat penerbangan malam, pastilah nggak bisa tidur meskipun malam! Paling enak kalau mendapat penerbangan pagi, sampai di Perth masih sore, sehingga malamnya bisa melepas lelah dengan leluasa!

Lama terbang Jakarta-Perth untuk direct flight sekitar 4 jam. Tetapi, kebanyakan Garuda transit di Denpasar, sehingga ada tambahan waktu transit sekitar 1-2 jam. Waktu itu saya berangkat jam 9 am, transit 1 jam di Denpasar dan sampai di  Perth jam 4 pm waktu setempat. I think, Garuda has a ‘touch’,  I felt it and I like it! Dari Denpasar, terbang sekitar 1 jam 15 menit, kita dihidangkan breakfast ringan tapi cukup mengenyangkan. Trus, dari Denpasar ke Perth kita di kasih lunch, lumayan OK deh!  Penting juga loh makan, karena 5-6 jam bepergain dengan perut kosong, bisa-bisa masuk angin!

Yang lebih sip lagi adalah jatah bagasi! Sebagai student, Garuda memberi 30 kg check-in baggage di tambah 7 kg cabin baggage. Lumayan, bisa bawa cukup banyak! Tapi memang perlu sedikit trik supaya pasti dapat segitu, yaitu datanglah untuk check in seawal mungkin. Dan waktu check in pastikan bahwa check in counternya ngerti kalau visa kita adalah student! Sebelum berangkat, pastikan untuk menimbang bagasi kita supaya kita nggak mengalami surprise! Bisa kebayang deh kalo tahu-tahu kita excess bagagge, padahal kita belum persiapin duit! Jadi ribet dan repot!

Kayaknya dengan pengalaman begini, saya sudah terpikir deh, nanti kalau menjemput keluarga pakai Garuda saja. Lebih nyaman, transisi bagi anak-anak lebih smooth (krn pramugari kan pakai bahasa indo), dan lebih murah juga koq!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.