DIKTI yang baik hati October 8, 2009
Posted by Tri AB in Dikti.add a comment
Kesan pertama,….emmm…tidak begitu menggoda! Itulah komentar yang umumnya kita dengar dari teman-teman yang telah mendengar kabar adanya program beasiswa LN Dikti. Apalagi jika sebelumnya pernah mendapatkan beasiswa dari pemerintah atau institusi asing semacam ADS, DAAD, Fullbright, Mombusho dsb. Setelah mengetahui besaran dana yang akan diberikan pasti …tersenyum kecut! Bahkan, banyak penerima beasiswa yang mengundurkan diri karena alasan tersebut, terutama yang mempunyai tanggungan keluarga.
Kesan saya tidaklah terlalu jauh dari gambaran di atas. Coba ya, kalau dihitung di atas kertas pun, angka-angkanya sudah berbicara dengan gamblang! Dengan living allowance 1500 AUD di Perth, dan harga sewa rumah yang sekitar 300an AUD pw atau 1200an AUD pm, apakah mungkin keluarga dengan 3 anak bisa hidup berkecukupan? Memang ini kenyataan yang tidak pada tempatnya, karena stipend beasiswa Dikti kan disetting untuk single rate. Keluarga tuh urusan masing-masing personal! Tetapi, kenyataan juga seringkali memaksa si penerima beasiswa untuk membawa keluarganya ke LN. Bayangkan jika punya 3 anak masih kecil ditinggal selama 3-4 tahun dengan status si penerima beasiswa adalah unpaid leave. Punya dua dapur pasti lebih boros. Punya anak-anak ditinggal jauh pasti mengurangi konsentrasi studi.
Well, tapi bukankah tidak ada pencapaian tanpa pengorbanan? Memang ada nggak sih program beasiswa yang membuat penerimanya kaya raya? Mana ada tugas untuk studi terasa sebagai long vacation? So, realistis saja mendapatkan beasiswa tugas belajar tuh disamping terasa sebagai anugerah (ada yang excited nggak nih..?), pasti juga ada sisi ‘a feeling of burden’. Apalagi yang punya tanggungan keluarga…macam-macamlah yang dipikir! Jadi, kalau sedikit direnungkan seharusnya mendapatkan beasiwa apa saja dan dari sumber mana saja, kira-kira sama situasinya.
Nih pikiran kayak gini jadi bikin optimis dengan beasiswa Dikti. Apalagi Prof Muchlas Samani tuh pribadi yang luwes, legowo, pengertian dan solider! Waktu beliau memberikan pembekalan bahwa program beasiswa LN Dikti ini merupakan salah satu grand design untuk memajukan pendidikan tinggi di Indonesia, penjelasannya sangat realistis dan achievable. Jika sampai 5 tahun ke depan ada 1000 student per tahun yang diberangkatkan, berarti mulai tahun 2010 akan ada sekitar 1000 publikasi ilmiah internasional yang ditulis oleh mahasiwa tersebut. Dengan sendirinya, citation index perguruan tinggi kita akan naik tajam. Makanya, salah satu surat edaran Dikti mewajibkan penerima beasiswa untuk mencantumkan PT asal dalam semua tulisan karya ilmiahnya. Ini baru satu tangible benefit yang langsung kelihatan!
Tergerak juga dong melihat bos kita berpikiran besar dan jauh ke depan! Apalagi Prof Muchlas dan timnya telah berjuang mati-matian berdarah-darah untuk mendapatkan persetujuan DPR untuk mendanai program ini. “Coba bayangkan, biaya yang dikasihkan untuk satu orang saja, bisa digunakan untuk memberi BLT ribuan orang. Memangnya mereka siapa dan punya hak istimewa apa?”. “Trus, nasib program pasca sarjana di PT dalam negeri mau dikemanakan kalau bakat-bakat terbaik dikirim semua ke LN? Sudah dapat intake mahasiwa kelas dua, besar dana yang mampu mereka bayarkan pun kelas dua? Memangnya PT LN pasti lebih baik daripada PT dalam negeri?” Itulah sebagian cas-cis-cus nyet-nyet grim-grom yang keluar di dewan dan PT dalam negeri. Jadi, dari segi penyelenggara beasiswa, keberhasilan menjalankannya saja sudah TOP BGT!
Dilapangan, pastilah banyak keluh kesah, terutama yang menyangkut soal dana! Bukan hanya yang terdengar secara informal antar obrolan teman, tetapi bahkan dalam forum resmi semacam acara tatap muka dengan Prof Muchlas tgl 3 Sep 2009 di Curtin lalu pun, soal dana mendominasi sesi tanya jawab. Intinya, besaran dana living cost kurang mencukupi atau terjadi ketidakberesan dalam transfer penerimaan!
Kalau di pikir sedikit saja, memang terasa benar apa yang dikatakan Prof Muchlas bahwa semua pihak yang terkait dalam penyelenggaran program beasiswa LN Dikti ini baru belajar! Dan upaya perbaikannya juga terasa ‘ngefek’ koq! Sebagai contoh nih, my contract. Hasil rekap dari data aktual acceptance letter dan plafon pendanaan dikti menunjukkan komponen berikut ini:
- Living cost: AUD 7500 untuk Agustus-Desember 2009 atau AUD 1500 per bulan
- Tuition fee: AUD 10.125 per semester
- OSHC: AUD 380 per tahun
- Settlement cost: AUD 1500
- Registration fee: AUD 50
- Book allowance: AUD 300
Kalau di lihat angka-angka di kontrak saya, semua komponen tersebut sudah ditambahkan 15% untuk komponen pajak, jadi:
- Living cost: AUD 8824 untuk Agustus-Desember 2009 atau AUD 1764 per bulan
- Tuition fee: AUD 11.913 per semester
- OSHC: AUD 447 per tahun
- Settlement cost: AUD 1764
- Registration fee: AUD 58
- Book allowance: AUD 352
Jadi, apa yang dinyatakan Prof Muchlas bahwa mulai tahun 2009, besaran dana yang diterima student adalah bebas pajak benar-benar betul!
Dan sewaktu membaca kontrak Dikti dengan Kopertis, aturan dan petunjuk pelaksanaan pengelolaan dana beasiswa terlihat sangat-sangat detil dan mengikat. Loop hole untuk terjadinya penyelewangan atau ketidakberesan menurut saya menjadi sangat-sangat kecil! Prof Muchlas bilang “semua aturan pelaksanaan kan sudah ada koridornya, …kita dan teman-teman pasti nggak berani macam-macamlah, karena gedung bundar bisa-bisa sudah menanti! Tapi kalau memang ada kasus ketidakberesan, ya..namanya juga manusia…”
Menurut saya, kita mesti angkat jempol untuk tim penyelanggara beasiswa Dikti, mulai dari Prof Muchlas Samani, Bu Istri Hidayati, Pak Purwanto dsb! Dari segi pengolahan data saja, dengan peserta sekitar 1000an, bukanlah pekerjaan ringan untuk menyiapkan rekap data yang teliti. Kesalahan titik koma saja bisa menyebabkan peserta beasiswa tidak bisa makan 1 atau 2 bulan di LN! Dan, kalau saya lihat angka-angka yang tertera dalam kontrak saya, sangat tepat 100% tidak ada salahnya! Juga, ucapan terimakasih mesti kita layangkan kepada tim Kopertis 3, khususnya Pak Wibowo dan Bu Entin yang karena program ini mempunyai beban pekerjaan tambahan untuk memastikan peserta dari Kopertis 3 berjalan lancar.
Jadi, kalau melihat kenyataan seperti ini, tidak seharusnya peserta program beasiswa Dikti berkecil hati, atau merasa lebih ‘kurang’ daripada peserta beasiswa lain seperti ADS! Toh, kita semua sama-sama sedang menempuh ‘ujian’ supaya lebih kuat dalam membangun bangsa di masa datang….ceile…!
Ganti Topik Riset S3 September 28, 2009
Posted by Tri AB in Dikti.1 comment so far
Dengan kondisi harus mempunyai Acceptance Letter supaya qualified untuk apply for the Dikti Scholarship memang memerlukan trik tersendiri. Apalagi biasanya sebagai dosen, kita tidak sempat untuk menyiapkan proposal yang benar-benar ‘klik’, entah karena nggak punya waktu, nggak punya kenalan calon supervisor atau memang nggak ada ide riset. The same thing happened to me…hehehe…mau S3 koq nggak punya ide? Gimana atuh?
Sebenarnya ide sih banyak, tetapi mengingat S3 nih kan ibaratnya kayak mau ambil Dokter Spesialis, saya mesti benar-benar hati-hati memilih topik yang tepat. Kalau nggak, bisa malu-maluin nantinya…udah nggak ahli, nggak antusias lagi! For me, choosing S3 research topic is like selecting a wife!
Jadi, waktu itu mengingat deadline submission aplikasi scholarship yang sudah mepet, saya coba kontak dosen dan peneliti di Murdoch. I know many of them and in fact Murdoch is one of the Binus twinning program partner. I should make my life easier. Saya coba tulis outline proposal 3 lembar mengenai educational games. Intinya adalah bagaimana bisa membangun framework kognitif untuk menggunakan game dalam pendidikan. Saya sebenarnya tidak begitu ‘engaged’ dengan topik ini, tapi ya sudahlah…soalnya calon pembimbing yang saya kenal memang menyukai bidang ini. So, as what I predicted, proposal melaju dengan mulus, versi panjangnya sekitar 30 halaman juga saya tulis kemudian hari supaya detilnya lebih kelihatan, terutama di metodologi riset.
After having ‘would be’ supervisor’s approval, saya kirim aplikasi ke Murdoch dengan mengisi beberapa form, termasuk mesti menyebutkan preferred supervisor dan melampirkan research outline. Supaya mudah saya minta tolong Edlink/Connect untuk mengirimkan aplikasi saya (hehehe…supaya dapat free application fee juga…lumayan 50 dollar!). Nggak sampai satu minggu, aplikasi sudah di setujui, terus Murdoch mengirimkan Letter of Offer alias Acceptance Letter. …Pfhhh…lega deh, soalnya dokumen ini yang paling penting untuk aplikasi beasiswa LN Dikti. Waktu itu, mengisi form A yang tersedia di website Ditnaga Dikti, tambah beberapa lampiran seperti hasil test IELTS, test TPA, transkrip S1 dan S2, ijasah S1 dan S2, dll. Dan singkat cerita, dapetlah beasiswanya. Alhamdulillah,,,thanks God.
Setelah sampai Murdoch, hari pertama langsung saya urus enrolment, beres. Esok harinya ada acara Orientasi student PhD baru, sehingga bisa langsung kenalan dengan staf-staf kunci dan mahasiswa lain. Dan….next day is the meeting schedule with my would be supervisor! hmmm…
The problem is I don’t feel like to do the submitted research topic! Wedew, mau ngomong apa nantinya yah…bisa kehilangan kredibilitas nggak? Waktu meeting, ya I should frankly tell what I do want! Daripada nanti malah menyesal. Jadi, saya terus terang bilang bahwa saya ingin mengganti topik! Hah….are you sure? Terus omong sana omong sini, akhirnya saya dikasih waktu dua minggu untuk merumuskan topik baru. Hehehe…..berhasil kan, this is what I want!
So, changing topis is acceptable actually, even after we get enrolled! Karena biasanya ada periode kandidasi selama 6 bulan untuk membuat proposal. Bahkan saya dengar banyak juga yang muncul perbedaan besar antara proposal kandidasi dengan final result!
Kalau ada teman-teman yang mau ambil S3 tapi belum merasa mantap dengan proposalnya, itu hal yang sangat-sangat normal. Yang penting waktu mulai kita punya ide yang layak saja sudah cukup! Terus bikin proposal singkat, hubungi calon supervisor dan kirim aplikasi untuk admisi. Belakangan nanti topik bisa saja diganti. Yang lebih penting adalah mempunyai topik riset yang kita merasa ‘engaged’ banget! yang membuat kita benar-benar suka kerjain! Kalau detilnya kita belum menguasai, it’s ok, bisa kita kejar…hohohoho..phd student kan tidak berarti sudah tahu segalanya dari awal..!
My Decision to Study Overseas September 26, 2009
Posted by Tri AB in Dikti.add a comment
Pengalaman ini mungkin bisa menjadi lesson learnt bagi teman-teman yang mau mengambil studi lanjut!
Jadi, sebenarnya saya tuh sudah hampir putus asa untuk bisa lanjutin S3 di luar negeri, bahkan sudah memantapkan hati untuk ambil di dalam negeri saja. Abis, sudah 7 tahun berlalu kirim-kirim aplikasi scholarship belum ada yang nyangkut, padahal umur kan jalan terus. FYI (jangan bilan-bilang yah), saya sudah pas 40…it’s quite an age, right? My chance for being eligible for ADS scholarship has gone either! So, ngapain masih berharap-harap bisa kuliah di LN lagi? Apalagi kuliah di LN pasti mesti full time, berarti harus cabut dulu dari current position, trus..gimana nasib anak istri?
Seven years of keeping sending applications to many scholarships with ZERO result! Pernah dua kali sudah sampai di wawancara akhir, tapi kalau dasar belum rezeki, nggak dapat juga. Trus, ada DIKTI offer! An overseas study scholarship scheme was offered to any lecturer in any university and colleges! Mulai tahun 2008!
Hahahaha…I applied that very year with so much confidence. Semua syarat sudah terpenuhi koq, masak nggak di lolosin? Ooops, benar-benar nggak dapat tahun itu! I couldn’t believe it! Wah bener-bener jadi agak-agak masa bodoh deh jadinya. I tought, I’m much better than other applicants! Mulai kepikiran nih, ada apa gerangan dengan Dikti?
Tapi, ya sudah lah, yang berlalu biar berlalu, toh next year it’ll be offered again. Tahun 2009, saya coba kirim aplikasi lagi, dan kali ini sebaiknya ngggak usah berharap banyak deh. Pokoknya mending berharap siap-siap sekolah dalam negeri saja. Alhamdulillah, berkat dukungan dari Prof Gerrard (rektor Binus) dan Dr. Firdaus Alamsjah (my supervisor), dan perkenan Tuhan, saya bisa lolos mendapatkan jatah alokasi beasiswa Dikti. Thanks Prof Muchlas Samani juga for your great plan for the higher education!
But, this is not something easy to go ahead! Dengan jatah living cost yang kata teman-teman cuman AUD 1500 per month, gimana cara bisa menghidupi istri dan 3 anak? Belum lagi sekolah mereka, dll, dll, dll…uhhhhhh..I should breath so deeply! Bukannya di Jakarta semua sudah mapan? Bukannya anak-anak juga sudah jalan dengan senang di sana? Dan my beloved wife, she’s always happy too…
Tapi untunglah, istri bisa memahami keadaan, bahkan dia tuh antusias kalo ingat Aussie. She looks like having a subconscious love with living in Aussie. Lagi pula, sebenarnya saya juga sudah mulai bete hidup gitu-gitu aja di Jakarta (cape deh…). Ya sudahlah, mantapkan hati untuk pergi!
Apalagi, kalau hitung-hitung peluang untuk ambil jalur profesorship di Binus masih terbuka lebar! Saya pernah bikin perhitungan dan presentasiin ke temen-temen di Binus bahwa sangat memungkinkan untuk meraih jenjang profesor dalam waktu 2-3 tahun setelah mendapatkan doktoral, asal pada saat start doctoral study, posisi kita sudah ada di Lektor dan semasa studi S3, kita bisa publish 5-6 conference paper dan 2-3 journal paper. This is actually the strongest driving factor of my decision to take overseas study!
Dan juga, saya lihat bahwa banyak teman-teman yang sudah mendapatkan beasiswa Dikti ini tidak juga segera pergi atau ragu-ragu. Meskipun saya akui setiap individu punya alasan dan persoalan yang berbeda-beda, memang supaya bisa segera mengambil keputusan untuk berangkat dan memulai studi itu perlu komitmen dan pengorbanan pribadi. Di mana-nama, tidak ada cerita bahwa hidup dengan dana beasiswa itu nyaman dan fun…hehehe…nggak ada kan? Lagipula, pastilah kita semua sekarang ini punya posisi dan pekerjaan, dan ini juga faktor yang sering menghambat keberangkatan kita. Selama kita masih berada di kantor, pasti kita punya something to accomplish and some other colleagues arange something for us! Ini nggak akan pernah berakhir, sampai kita benar-benar menghilang dari kantor. Makanya, sebulan sebelum berangkat saya sudah ambil cuti unpaid (di luar tanggungan), supaya bisa siapin tetek-bengek untuk di LN nanti. Dan tentu saja, saya mesti siapkan dana pribadi untuk berangkat, lah..piye tho…wong dhuwit belum dikasih Dikti, nanti mau makan apa? Jadi, tuh mobil saya jual saja, lumayan bisa nambah-nambah uang bekal. So, jangan ragu-ragu untuk ambil resiko berangkat, insyaallah permasalahan akan terpecahkan ketika sudah di LN, karena kita tidak punya pilihan lain. Jangan ragu-ragu dengan dana Dikti, pasti akan cair meskipun pasti terlambat!
Dag Dig Dug Menunggu Dana Cair September 26, 2009
Posted by Tri AB in Dikti.add a comment
Bagi teman-teman penerima beasiswa DIKTI, saat-saat menunggu dana cair memang cukup bikin dag dig dug, apalagi untuk teman-teman dari PTS. Meskipun petunjuk yang dijelaskan DIKTI sewaktu pembekalan cukup jelas, tapi di lapangan ternyata banyak masalah. Apalagi program beasiswa LN ini termasuk hal yang baru bagi DIKTI, universitas dan mahasiswa peserta sehingga kelihatannya semua pihak baru belajar.
Kalau merujuk pada pembekalan DIKTI akhir Juli lalu, mekanisme pencairan dana akan dibagi dua tahap. Tahap pertama meliputi semester pertama, yaitu Juli 2009 – Desember 2009. Untuk mudahnya saya ambil contoh Binus yang tergabung dalam KOPERTIS 3. Jadi, KOPERTIS akan melakukan kontrak dengan DIKTI, Binus dengan diwakili oleh Rektor, harus melakukan kontrak dengan KOPERTIS, dan tentu saja dosen yang bersangkutan, yaitu saya, harus melakukan kontrak dengan Binus. Jika semua pihak terkait diatas, yaitu DIKTI-KOPERTIS-Binus-saya, sudah tandatangan kontrak, maka dana baru bisa dicairkan. Selanjutnya dana bisa ditransfer ke rekening penerima langsung maupun melalui universitas asal, tergantung dari kebijakan universitas. Untuk itu, sebenarnya KOPERTIS 3 sudah memberitahu peserta mengenai 2 sesi acara dimana peserta dan perwakilan Binus harus hadir. Sesi pertama telah diadakan tanggal 4 Agustus lalu, dan isinya lebih ke arah pembekalan untuk peserta. Sedangkan sesi kedua sebenarnya sangat krusial yaitu KOPERTIS mengundang perwakilan universitas (rektor) untuk menandatangani kontrak. Jadi alur pencairan dana untuk tahap pertama adalah DEPKEU-DIKTI-KOPERTIS-BINUS-saya, atau bisa juga DEPKEU-DIKTI-KOPERTIS-saya.
Untuk tahap kedua, yaitu January 2009 – Juli 2013, anggaran dana beasiswa langsung dikelola oleh KOPERTIS, dan pencarian dana WAJIB disalurkan melalui Binus. Mekanisme ini diwajibkan oleh DIKTI untuk mengontrol kemajuan studi peserta. Jadi, untuk tahap kedua alur pencarian dana adalah DEPKEU-KOPERTIS-Binus-saya. Tandatangan kontrak HANYA dilakukan SEKALI di awal program, baik oleh KOPERTIS maupun rektor Binus. Untuk periode January 2009 – Juli 2013, dana beasiswa akan telah masuk dalam anggaran rutin KOPERTIS 3.
Kalau melihat mekanisme di atas, berarti dana akan ditransfer ke Binus BUKAN per bulan tetapi per ENAM BULAN, yaitu seharusnya bulan AGUSTUS akhir dan bulan MARET akhir. Besaran dana sesuai dengan letter of guarantee yang dulu diterbitkan DIKTI untuk masing-masing mahasiswa, yaitu tuition fee at cost, living allowance sekitar AU$ 1500, asuransi kesehatan at cost. Untuk pencairan tahap pertama ditambah dengan establishment allowance kira-kira sebesar satu bulan nilai living allowance. DIKTI menggunakan rate RP 9000 per AU$ 1, dan ini dinyatakan ulang dengan tegas pada acara kunjungan Prof Muchlas Samani ke Curtin tanggal 3 September 2009 lalu. Seperti saya katakan diatas, untuk tahap pertama, dana ini bisa ditransfer ke rekening Binus baru ke saya ataupun langsung ke saya, tergantung kesepakatan KOPERTIS dan Binus. Untuk January 2009 – Juli 2013, besaran dana adalah tuition fee dan living allowance sekitar AU$ 1500, jadi pada periode tersebut setiap bulan AGUSTUS akhir dan bulan MARET akhir, KOPERTIS akan mentransfer dana tersebut ke rekening Binus.
Jadi, terakhir pada saat tata muka dengan Prof Muchlas Samani di Curtin tgl 2 Sep 2009, saya terus terang menanyakan kapan kiranya dana beasiswa untuk KOPERTIS 3 di cairkan. Ini terutama keluhan dari peserta universitas swasta atau KOPERTIS. Beliau menjawab bahwa seharusnya akhir Agustus semua dana beasiswa sudah cair, tetapi pencairan ke peserta sangat tergantung dari kesigapan masing-masing KOPERTIS dan universitas PTN serta PTS. Beliau juga mengatakan bahwa memang untuk dosen-dosen swasta lebih rumit persoalannya, karena harus melalui KOPERTIS.
Saya melihat potensi masalah yang bisa menyebabkan dana beasiswa tidak bisa cepat cair untuk PTS seperti Binus dan lain-lainnya, yaitu KONTRAK dan KOMUNIKASI. Pertama, KOPERTIS 3 BELUM menandatangani kontrak dengan DIKTI. Kedua, Binus BELUM menandatangani kontrak dengan KOPERTIS. Mungkin juga bisa kedua-duanya, karena jika KOPERTIS 3 sudah tanda tangan kontrak, pasti Rektor Binus akan diundang untuk tanda tangan kontrak. Potensi masalah lain adalah kelambatan komunikasi antar pihak terkait. Hal ini bisa terjadi karena biasanya KOPERTIS akan berkomunikasi dengan rektorat, biasanya, rektorat akan mengontak LRC dan LRC ke saya. Pada saat acara brifing KOPERTIS tgl 4 Agustus lalu, diungkapkan bahwa biasanya pada saat penandatanganan kontrak di kopertis, rektor PTS tidak datang langsung tetapi oleh perwakilan. Jika kontrak segera ditandatangani oleh rektor dan dikembalikan ke kopertis, maka dana akan cepat cair. Sebagai contoh, KOPERTIS bilang bahwa tahun lalu, beberapa rektor PTS terlambat mengembalikan kontrak, sehingga, dalam acara dengan Prof Muchlas kemarin terungkap bahwa ada peserta dari KOPERTIS 3 tahun lalu yang menerima dana sekitar bulan Oktober akhir.
Memang dikatakan oleh Prof Muchlas bahwa tidak mudah megurus administrasi dan manajemen dana beasiswa dikti ini, dan beliau bilang bahwa semua pihak, yaitu DIKTI, KOPERTIS, PTS dan PTN sedang belajar tata kelolanya.
Masalah pencairan dana tersebut bisa membuat situasi mahasiswa penerima menjadi cukup rumit dan agak runyam, karena pihak universitas di sini (Murdoch, Curtin dll) tidak mau tahu dengan permasalahan di lapangan. Untuk Murdoch University, meskipun saya sudah mengajukan permohonan keterlambatan pembayaran tuition fee, tetapi tetap saja policy late payment berupa denda 10% akan tertanggung ke saya. Bahkan kalau sampai dua bulan setelah enrolment, tuition fee belum terbayar, maka saya bisa terkena suspension policy.
Hehehe…sorry, it’s a bit really lengthy writing. Dan, agak bernada curhat juga. But, personally, I’m optimistic and doing well koq…
Beasiswa S3 LN DIKTI September 14, 2009
Posted by Tri AB in Dikti.add a comment
Mulai akhir tahun 2007, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) membuka pendaftaran beasiswa S2 dan S3 luar negeri bagi dosen tetap PTN, dosen DPK dan dosen tetap PTS di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional. Beasiswa untuk program S2 selama 2 tahun, dan program S3 selama 3 tahun.
Setiap pelamar melengkapi :
1. Form A dari Direktorat Ketenagaan Ditjen Pendidikan Tinggi yang telah diisi.
2. Letter of Acceptance dari perguruan tinggi yang terakreditasi;
3. Fotocopy ijasah S1 bagi pelamar jenjang S2 dan S2 bagi pelamar jenjang S3;
4. Bukti kemampuan berbahasa Inggris (TOEFL/IELTS), Jerman, Perancis, Jepang atau bahasa lain, sesuai tempat
studi (tidak lebih dari dua tahun terakhir);
5. Khusus untuk pelamar S3 melampirkan rencana riset yang telah disetujui calon pembimbing di luar negeri;
6. Surat pengantar dari pimpinan perguruan tinggi.
Berkas pendaftaran dikirim ke alamat :
Direktur Ketenagaan
Gedung D Lantai 5 Komplek Depdiknas
Jalan Jenderal Soedirman Pintu I – Senayan, Jakarta 10270
Telp./Faks : (021) 57946052/53
Pada tahun 2008, telah diberangkatkan sekitar 1000 dosen untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di luar negeri. Dosen-dosen tersebut merupakan peserta yang terpilih dari 3 gelombang pendaftaran dan seleksi yang telah diselenggarakan sekitar bulan Desember 2007, Maret 2008 dan Mei 2008. Sedangkan pada tahun 2009, akan diberangkatkan sekitar 600 orang yang telah terpilih dari 2 gelombang seleksi, yaitu pada bulan Desember 2008 dan Maret 2009. Pendaftar yang mengikuti gelombang 3 tahun 2009 akan diberangkatkan pada tahun 2010 dan pendaftaran masih terbuka sampai dengan bulan September 2009.
Secara keseluruhan, seperti yang diungkapkan oleh Direktur Ketenagaan DIKTI Prof Muchlas Samani, dalam periode 5 tahun ini DIKTI akan memberangkatkan sebanyak 5000 dosen PTN dan PTS untuk menimba ilmu diluar negeri dalam program S2 dan S3. Mulai tahun 2010, pendaftaran beasiswa hanya terbuka bagi pelamar program S3. Secara umum, program beasiswa LN ini diselenggarakan dalam rangka peningkatan mutu dosen. Dampak ikutan yang diharapkan juga akan segara terjadi adalah berupa peningkatan citation index karya tulis ilmiah di jurnal internasional. Oleh karena itu, DIKTI mengharuskan semua dosen penerima beasiswa untuk menuliskan nama perguruan tinggi asal dalam semua karya tulis ilmiah yang dipublikasikan baik di media konferensi maupun jurnal internasional.